Wakaf Tunai Pembebasan Lahan dan Pembangunan Pesantren Tahfidz Alquran Tasikmalaya

Kamis, 18 Desember 2014

PESAN BAPAK UNTUK ANAKNYA DIFACEBOOK

Membaca cerita ini... Dan tanpa sadar air mata membasahi pipi...
Subhanallah...

PESAN BAPAK UNTUK ANAKNYA DIFACEBOOK (bahan renungan)

Seorang pemuda duduk didepan hadapan laptopnya. Login facebook, pertama kali yang dicek adalah inbox.
Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada (2) pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua... Dia membukanya.
Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang lalu.


Diapun mulai membaca isinya:

"Assalamu'alaikum. Ini pertama kali Bapak mencoba menggunakan facebook. Bapak mencoba menambah kamu sebagai teman sekalipun Bapak tidak terlalu paham dengan itu. Lalu bapak mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf, Bapak hanya sekedar mengenang.
Bacalah !

Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik memanggil: Bapak,Bapak,Bapak.
Bapak bahagia sekali rasanya anak lelaki Bapak sudah bisa me-manggil2 Bapak, sudah bisa me-manggil2 Ibunya".

Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Bapak dan Ibumu bicara dengan kamu sangat banyak sekali.
Kamulah penghibur kami setiap saat.
Walaupun hanya dengan mendengar gelak tawamu.

Saat kamu masuk SD, Bapak masih ingat. kamu selalu bercerita dengan Bapak ketika membonceng motor tentang apapun yang kamu lihat dikiri kananmu dalam perjalanan.

Ayah mana yang tidak gembira melihat anaknya telah mengetahui banyak hal diluar rumahnya.

Bapak jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu kesekolah.
Sebab kamu lucu sekali, menyenangkan.

Bapak sangat menginginkan kamu menjadi anak yang pandai dan taat beribadah.

Masih ingat jugakah kamu, saat pertama kali kamu punya Hp? Diam2 waktu itu Bapak menabung karena kasihan melihatmu belum punya Hp sementara kawan2mu sudah memiliki.

Ketika kamu masuk SMP kamu sudah mulai punya banyak kawan-kawan baru. Ketika pulang dari sekolah kamu langsung masuk kamar, mungkin kamu lelah setelah mengayuh sepeda, begitu pikir Bapak.
Kamu keluar kamar hanya pada waktu makan saja setelah itu masuk lagi, dan keluarnya lagi ketika akan bersama kawan-kawanmu.

Kamu sudah mulai jarang bercerita dengan Bapak. Tahu2 kamu sudah mulai melanjutkan kejenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Kamu mencari kami saat perlu2 saja serta membiarkan kami saat kamu tidak perlu.

Ketika mulai kuliah diluar kotapun sikap kamu sama saja dengan sebelumnya. Jarang menghubungi kami kecuali saat mendapatkan kesulitan. Sewaktu pulang liburan pun kamu sibuk dengan Hp kamu, dengan Laptop kamu, dengan Internet kamu, dengan dunia kamu.

Bapak bertanya2 sendiri dalam hati.
Apakah kawan2mu itu lebih penting dari bapak dan Ibumu? Apakah Bapak dan Ibumu ini cuma diperlukan saat nanti kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Apakah kami ibarat tabungan kamu saja?

Kamu semakin jarang berbicara dengan Bapak lagi. Kalaupun bicara, dengan jari-jemari saja lewat sms. Berjumpa tapi tak berkata-kata, berbicara tapi seperti tak bersuara, bertegur cuma waktu hari raya.
Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata.
Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, malah menjadi-jadi.

Malam ini, Bapak sebenarnya rindu sekali pada kamu.

Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu.
Cuma Bapak sudah merasa tua. Bpa sudah diatas 60 an. Kekuatan Bapak tidak sekuat dulu lagi
.
Bapak tidak minta banyak....
Kadang2, Bapak cuma mau kamu berada disisi Bapak, berbicara tentang hidup kamu. Melupakan apa saja yang terpendam dalam hati kamu. Menangis pada Bapak. Mengadu pada Bapak. Bercerita pada Bapak seperti saat kamu kecil dulu.

Andaikan kamu sudah tidak punya waktu sama sekali berbicara dengan Bapak, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Allah.

Jangan letakkan cintamu pada seseorang didalam hati melebihi cintamu kepada Allah.
Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan kamu sekali2 mengabaikan Allah.

Maafkan Bapak atas segalanya. Maafkan Bapak atas curhat Bapak ini. Jagalah sholat, jagalah hati, jagalah iman".

Pemuda itu meneteskan air mata (terisak)
dalam hati terasa perih tidak terkira..................
......................................
............................................
...................................................
Bagaimana tidak?
Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.

KLIK LIKE & SHARE,

jika posting ini bermanfaat bagi anda yang membacanya. 

0 komentar:

Posting Komentar